Pandangan Redaksi 18 Tahun Anambas: Jangan Rayakan Usia, Rayakan Hasilnya

ANAMBAS, JABATNEWS.COM — Delapan belas tahun bukan lagi usia untuk mencari jati diri. Bagi Kabupaten Kepulauan Anambas, usia ini seharusnya menjadi ukuran keberhasilan dalam menghadirkan kesejahteraan, bukan sekadar kebanggaan atas bertambahnya umur daerah.
Selama ini, pembangunan memang terus berjalan. Namun masyarakat tidak hidup dari angka-angka laporan, deretan penghargaan, atau seremoni tahunan. Masyarakat menilai pembangunan dari hal-hal yang mereka rasakan setiap hari: apakah pekerjaan semakin mudah didapat, apakah harga kebutuhan pokok semakin terjangkau, apakah transportasi antarpulau semakin baik, dan apakah pelayanan publik semakin cepat serta berkualitas.
Di sinilah tantangan terbesar Anambas. Daerah ini dianugerahi kekayaan laut, potensi perikanan, pariwisata kelas dunia, serta sumber daya migas yang melimpah. Tetapi ironi masih terasa ketika ketergantungan terhadap dana transfer pusat tetap tinggi, kesempatan kerja masih terbatas, dan sebagian masyarakat belum menikmati manfaat optimal dari kekayaan yang ada.
Sudah saatnya pemerintah mengubah paradigma pembangunan. Fokus tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Yang lebih mendesak adalah membangun ekonomi daerah yang kuat, memperbesar Pendapatan Asli Daerah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memastikan setiap investasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Redaksi berpandangan bahwa Hari Jadi ke-18 harus menjadi titik balik, bukan sekadar agenda tahunan. Pemerintah daerah perlu berani melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan yang belum efektif, mempercepat reformasi birokrasi, memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih, serta membuka ruang kolaborasi dengan dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Anambas memiliki semua syarat untuk menjadi kabupaten kepulauan yang maju. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian mengambil keputusan besar, konsistensi menjalankan kebijakan, dan komitmen menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan jangka pendek.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat seberapa meriah peringatan hari jadi dilaksanakan. Sejarah akan mencatat apakah usia ke-18 menjadi awal perubahan besar atau sekadar penambahan angka tanpa makna. Masyarakat Anambas pantas mendapatkan pembangunan yang menghasilkan kesejahteraan, bukan hanya perayaan yang berulang setiap tahun. (JN/Red)
